Dalam hal keberagaman bahasa, suku Minang berbicara dalam bahasa Minang, sedangkan suku Sunda berbicara dalam bahasa Sunda. Lalu, berdasarkan keberagaman REFANSTAR | MACAM-MACAM ORANG UTANG!!!(Bahasa Jawa) ••Berikut adalah contoh macam-macam orang utang. Mari tonton dan nikmati. HAVE FUN!!! NO BAPER CLUB Asalmulane aksara jawa. Asal mulane aksara jawa. ndisek, ing kerajaan Medhangkamulan, ana raja kang jenenge Dewata Cengkar utawa Prabu Dewata Cengkar. dhewekeiku raja kang sangat rakus, bengis, cethil, lan seneng mangan daging menungsa. amargi kesenengane mangan daging manungsa, rakyate dikongkon nguwehi upeti kang awujud Vay Tiền Nhanh Chỉ Cần Cmnd. – Metode pembelajaran merupakan perencanaan penyajian pembelajaran yang menggunakan pendekatan tertentu. Perencanaan ini digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran, yang bisa dipilih sesuai keadaan siswa, materi pembelajaran, dan lingkungan beberapa metode yang dikenal dalam pembelajaran bahasa, seperti metode tata bahasa terjemahan, metode langsung, dan metode audiolingual. Metode tata bahasa terjemahan Grammar translation method Disebut juga metode tradisional, karena sudah lama digunakan. Bahasa sasaran ditafsirkan sebagai sistem kaidah yang harus diamati dalam teks dan kalimat, serta dikaitkan dengan kaidah dan makna bahasa pertama. Baca juga 5 Bahasa Estetik PosmodernismeSebutkan ciri-ciri metode tata bahasa terjemahan! Berikut ciri-ciri metode tata bahasa terjemahan Ditujukan untuk alasan pembelajaran bahasa, supaya siswa mampu membaca sastra dan memperoleh keuntungan dari proses belajar Memandang pembelajaran bahasa sebagai upaya menghafalkan aturan dan fakta mengenai tata bahasa, agar mudah dipahami dan diterapkan dalam morfologi dan sintaksis Penekanan pada kemampuan membaca, mengarang, serta menerjemahkan Kosakata yang diajarkan dipilih lewat teks bacaan yang dipakai, dan pelajar diminta menghafal daftar kosakata yang sedang dipelajari Tata bahasa dipelajari secara deduktif, di mana kaidah tata bahasanya dianalisis, dihafalkan, dan dijadikan model latihan menerjemahkan kalimat dan teks bahasa target. Kesimpulannya, metode tata bahasa terjemahan tidak memiliki landasan linguistik yang jelas. Selain itu, metode ini yakin bahwa mempelajari, menghafalkan, menganalisis dan menerapkan kaidah bahasa akan mengembangkan mental secara positif. Metode bahasa langsung Metode ini memakai bahasa sasaran sebagai alat pengajaran dan komunikasi dalam kelas bahasa, serta menghindari penggunaan bahasa pertama. Baca juga 4 Fungsi Bahasa sebagai Alat Komunikasi Unggah-Ungguh Basa Jawa yaitu aturan adat masyarakat Jawa perihal sopan santun, tatakrama, tatasusila menggunakan Bahasa Jawa. Macam-macam Bahasa Jawa menurut aturan penggunaannya dapat dikelompokkan menjadi 5, yaitu;Bahasa Ngoko, dibagi menjadi 2 jenis bahasa, yaitu Ngoko Lugu dan Ngoko Andhap yang dibagi ke dalam 2 jenis bahasa, yaitu Antya Basa dan Basa Antya.Bahasa Madya, dibagi menjadi 3 jenis bahasa, yaitu Madya Ngoko, Madya Krama, dan Krama, dibagi menjadi 5 jenis bahasa, yaitu Mudha Krama, Kramantara, Wredha Krama, Krama Inggil, dan Krama KedatonBahasa Kasar Penjelasan mengenai unggah-ungguh basa Jawa lengkap beserta contoh kalimat unggah-ungguh basa Jawa akan kami ulas pada pembahasan berikut ini. A. Bahasa Jawa Ngoko Bahasa Jawa Ngoko yaitu jenis bahasa jawa yang digunakan untuk berbicara dengan masyarakat umum/ masyarakat biasa. Bahasa Jawa ngoko dibedakan menjadi dua golongan, yaitu ngoko lugu dan ngoko andhap. 1. Ngoko LuguBahasa ngoko lugu fungsinya untuk berbicara atau dialog antara orang tua dengan anak cucunya, masyarakat umum pada umumnya atau seorang anak dengan temannya. Bangsawan dengan pelayannya, berbicara sendiri. a. Orang tua dengan anak/ cucunya Contoh Orang tua dengan anak/ cucunya Bapak = Le, kapan anggonmu teka?Ngoko lugu Anak = Pengestunipun Bapak, wilujeng. Kala wau enjang jam 10 anggen kulo dumugi ing ngriki.Ngoko lugu b. Sesama masyarakat biasa atau anak dengan temannya Contoh A = Mas Agus, aku mbok ya kokwuruki garapan nulis Jawa ndhek wingi kae. Yen ora, mengko rak aku sida didukani Pak Guru. Dhasar aku ndhek wingi ora mlebu, ora pamit pisan.Ngoko lugu B = Lho, ya gene ta, kok ora mlebu barang ki? Enya iki, turunen bae, mumpung isih esuk mengko mundhak selak mlebu.Ngoko lugu c. Pejabat/ petinggi dengan bawahannya Contoh A = Mbok Minah, mengko kowe gawea slametan tumpeng kaya adate nyetauni putumu si thole.Ngoko lugu B = Menika rak dede dinten Rebo Pahing tingalanipun putra sampeyan Ndara Den Bagus ta, Ndara?Ngoko lugu d. Orang yang berbicara sendiri Contoh E, tak turu sedhela, awakku kok kesel, ora kira-kira.Ngoko lugu 2. Ngoko Andhap Ngoko Halus Ngoko andhap atau ngoko halus dibedakan menjadi dua macam, yaitu antya-basa dan Antya-basa, merupakan bahasa yang digunakan dalam berbicara antara orang tua dengan anak muda yang lebih tinggi pangkatnya atau satu orang dengan orang lain yang sudah erat sekali pertemanannya. Kata "kowe" menjadi "sliramu". Berwujud perpaduan bahasa ngoko dan krama inggil, tidak mengkramakan ater-ater dan panambang. Contoh Ngoko lugu = Kowe apa ora lunga menyang kantor? Antya-basa = Sliramu apa ora tindak menyang kantor? b. Basa-antya, yaitu bahasa yang digunakan untuk berbicara antara orang tua dengan anak muda yang lebih tinggi pangkatnya. Kata "kowe" menjadi "panjenengan". Berwujud perpaduan bahasaa ngoko, krama dan krama inggil, tidak mengkramakan ater-ater dan panambang. Contoh Ngoko lugu = Yen kowe wis duwe wektu, mbok ya menehi layang. Basa-antya = Yen panjenengan wis kagungan wekdal, mbok ya maringi, serat. Keterangan Kata-kata yang tidak dikramakan seperti 1 kata ganti = iki, iku, apa, sapa, endi, pira, kapan, kepriye, yagene; 2 kata sebab = marang, menyang, saka, nganti, utawa, yen; 3 kata-kata keterangan saiki, mengko, mau, dhek, seprana, seprene, semono, mangkene, mengkono, isih, wis, durung, arep, lagi, maneh. B. Bahasa Jawa MadyaBahasa madya yaitu salah satu unggah-ungguh bahasa Jawa antara bahasa ngoko dan bahasa krama. Bahasa madya berwujud kata madya yang masih bercampur dengan bahasa ngoko atau bahasa krama. Bahasa madya ngoko biasanya digunakan untuk berbicara oleh orang-orang desa di Jawa pada umumnya. Bahasa madya dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu madya ngoko, madya krama dan Bahasa Madya Ngoko Bahasa madya ngoko yaitu bahasa yang digunakan untuk percakapan antara pedagang dengan sesama pedagang. Kata "aku" menjadi "kula", kata "kowe" menjadi "dika". Berwujud bahasa madya dan ngoko, ater-ater, dan panambang tetap ngoko. Contoh bahasa Madya Ngoko Ngoko lugu = Kowe kok sajak kesusu ngajak mulih aku, ana perlune apa, ta? Madya ngoko = Dika kok sajak kesusu ngajak mulih kula, onten perlune napa ta? 2. Bahasa Madya Krama Bahasa madya krama yaitu bahasa percakapan antara istri pejabat dengan suaminya. Berwujud bahasa madya, krama dan krama inggil. Tetapi tidak mengkramakan ater-ater dan panambang. Contoh bahasa Madya Krama Ngoko lugu = Pakne, wayah ngene kok wis arep menyang kantor, apa akeh gawean? Madya krama = Pakne, wanci ngeten kok empun ajeng tindak tang kantor, napa kathah padamelan? 3. Bahasa Madyantara Bahasa madyantara yaitu bahasa percakapan antara orang biasa dengan orang biasa, atau petinggi dengan saudara yang lebih rendah pangkatnya. Kata “kowe" menjadi "mang", "samang", atau "sampeyan". Contoh bahasa Madyantara Ngoko Lugu = Kowe rak wis duwe tumbak sing luwih apik, ta? Madyantara = Sampeyan rak empun duwe tumbak sing luwih apik ta? C. Bahasa Jawa Krama Bahasa krama dibedakan menjadi lima golongan, yaitu mudha krama, kramantara, wredha krama, krama inggil, dan krama desa. 1. Bahasa Mudha Krama Bahasa mudha krama yaitu bahasanya anak muda dengan orang tua, bahasa murid dengan gurunya, bahasa pejabat dengan pejabat. Kata "aku" menjadi "kula", kata "kowe" menjadi "panjenengan". Berwujud bahasa krama dan krama inggil, mengkramakan ater-ater dan panambang. Contoh bahasa Mudha Krama Ngoko andhap = Menawa panjenengane ibu marengake, aku arep ndherek. Mudha krama = Menawi panjenenganipun ibu marengaken, kula badhe dherek. Keterangan a. Ater-ater = dak diganti kula, ko diganti dipun b. Panambang = ku diganti kula, mu diganti panjenengan atau sampeyan, e diganti dipun, ake diganti aken 2. Bahasa Kamantara/ Krama Lugu Bahasa kramantara atau krama lugu yaitu bahasa percakapan antara orang tua dengan orang yang lebih muda, merasa menang status sosial atau pangkat yang lebih tinggi. Kata "aku", menjadi "kula", kata "kowe", menjadi "sampeyan". Contoh bahasa Kramantara Ngoko lugu = Dhek wingi kowe rak wis dak ngerteni, awit aku ora bisa teka sadurunge jam sepuluh. Kramantara = Kala wingi sampeyan rak sampun kula criyosi, bilih kula boten saged dhateng saderengipun jam sedasa. Keterangan a Ater-ater = dak diganti kula, koe diganti sampeyan, di diganti dipun b Panambang = ku diganti kula, mu diganti sampeyan, e diganti ipun, ake diganti aken 3. Bahasa Wredha Krama Bahasa wredha krama yaitu bahasa percakapan orang tua dengan orang yang lebih muda. Kata "aku" menjadi "kula", kata "kowe" menjadi "sampeyan". Bahasa wredha krama berwujud kata-kata krama, tetapi ater-ater dan panambang tidak dikramakan. Contoh bahasa Wredha Krama Ngoko lugu = Kowe mangkono wis ora kekurangan apa-apa, bebasan kari mangan karo turu. Wredha krama = Sampeyan mekaten sampun boten kekirangan punapa-punapa, bebasane kantun nedha kaliyan tilem. 4. Bahasa Krama Inggil Bahasa krama inggil yaitu bahasa percapakan antara orang tua dengan kaum ningrat, atau orang biasa dengan pejabat/ petinggi, anak muda dengan orang tua. Kata "kula" menjadi "adalem", "abdi-dalem", "kawula", kata "panjenengan" menjadi "panjenengan-dalem". Bahasa krama inggil berwujud bahasa krama semua, seperti bahasa mudha krama. Contoh bahasa Krama Inggil Mudha krama = Sowan kula ing ngarsa panjenengan, perlu nyadhong dhawuh panjenengan. Krama inggil = Sowan adalem ing ngarsa panjenengan-dalem perlu nyadhong dhawuh panjenengan-dalem. 5. Bahasa Krama Desa Bahasa krama desa yaitu bahasa percakapan antara orang-orang desa yang biasanya orang-orang tersebut masih butasastra. Kata-kata yang digunakan dalam bahasa krama desa, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut iniKata krama atau krama-inggil dikramakan lagi, seperti nama menjadi nami; sepuh menjadi sepah; tebih menjadi tebah, waja menjadi waos, kata-kata krama-inggil terhadap dirinya sendiri seperti asta kula, kula paringi, kula dhahar, kata-kata kawi, seperti yoga sampeyan; nem santun; turangga sampeyan, dengan keadaan, seperti ambetan-duren, pethakan-mori, singetan-pete, samberan-pitik, mempunyai arti sendiri, seperti dhekemen-dhele, watesan-semangka, boga-agung, dst. Contoh bahasa Krama Desa Ngoko lugu NL = Lo, kowe Tin, apa padha slamet? Krama desa KD = Pangestu sampeyan, inggih wilujeng, sowan kula ngaturaken kagungan sampeyan pantun gagi sapunika sampun sepah. NL = Sokur ta, jagung lan kedhele apa during tuwa? KD = Boganipun dereng, dekemanipun kados sepeken engkas sampun sepah. NL = Paestrenmu koktanduri apa? KD = Kula dhawahi walesan, nanging boten cekap, amargi kebenan pejah 1 Kata = aku diganti kula, kowe diganti sampeyan 2 Ater-ater = dak diganti kula, ko diganti sampeyan, di diganti dipun 3 Panambang = ku diganti kula, mu diganti sampeyan, e diganti ipun, ake diganti aken 4 Kata-kata dalam bahasa krama desa diantaranya; kedhele krama desane = kedhangsul, dhekeman kwali krama desane = kwangsul jaran krama desane = kepel belo krama desane = belet mori krama desane = monten kori krama desane = konten ratan krama desane = radosan wedi krama desane = wedos kacang krama desane = kaos tuwa krama desane = sepah jagung krama desane = boga, gandum gaga krama desane = gagi tembako krama desane = santun segelo krama desane = segenten dhuwit krama desane = yatra wani krama desane = wantun duren krama desane = ambetan Imogiri krama desane = Maginten Semarang krama desane = Semawis Wonosaba krama desane = Wonosowan Pati krama desane = Santenan Boyolali krama desane = Bajulkesupen Salatiga krama desane = Salatigen Kendal krama desane = Gajihan Temanggung krama desane = Temanggel Kediri krama desane = Kedinten Karangasem krama desane = Kawisasem Pekalongan krama desane = Pengangsalan Parakan krama desane = Pendetan Banyumas krama desane = Toyajene D. Bahasa Jawa Kedhaton Basa Bagongan Bahasa kedhaton basa bagongan yaitu bahasa percakapan para prajurit dan abdi raja di dalam kerajaan dan didepan petinggi kerajaan. Berwujud kata-kata krama dengan kata-kata bahasa kedhaton. Ater-ater dan panambang, jika yang berbicara itu prajurit dengan prajurit, abdi raja dengan abdi raja, tidak dikramakan. Namun jika abdi raja itu berbicara dengan pangeran-putra, ater-ater dan panambang harus dikramakan. Perbedaan bahasa kedhaton Surakarta dan NgayogyakartaNgayogyakarta Utawa Purusa/wong kapisan aku, kedhatone manira Madyama Purusa/wong kapindho kowe, kedhatone pakenira. Surakarta a Aku bagi para putra-sentana, menjadi mara. Kowe bagi para putra-sentana, menjadi para. b Aku bagi para punggawa, menjadi manira. Kowe bagi para punggawa, menjadi pakenira. c Aku bagi para panewu-mantri, menjadi kula. Kowe bagi para panewu-mantri, menjadi jengandika. d Aku bagi para pujangga, menjadi robaya. Kowe bagi para pujangga, menjadi panten. Keterangan a Ater-ater = dak diganti manira, ko diganti pakenira, di tetap di b Panambang = ku menjadi kula, mu menjadi dalem, e tetap e, ake tetap ake c Kata-kata kedhaton diantaranya; punapa, kedhatone = punapi iki, kedhatone = puniki iku, kedhatone = puniku ayo, kedhatone = nedha gajah, kedhatone = dirada macan, kedhatone = sardhula ora, kedhatone = boya ana, kedhatone = wenten inggih, kedhatone = enggeh bae, kedhatone = besaos kebo, kedhatone = mundhing jaran, kedhatone = kuda Iya, kedhatone = enggeh doyan, kedhatone = seta seje, kedhatone = seyos dhewe, kedhatone = dhawak isih, kedhatone = meksih weruh, kedhatone = meninga sumangga, kedhatone = wawi kandhane, kedhatone = pojare duwe, kedhatone = darbe keris, kedhatone = curiga cemethi, kedhatone = tembung apa, kedhatone = punapi Contoh A = Kala wingi ing griya jengandika punapi wonten tamu? B = Enggeh, adhi kula angka gangsal saking Ngayogyakarta? A = Sajake kok wenten damel ingkang wigatos. B = Boya, namingtuwi besaos, amargi rumaos kangen,sampun lami boya kepanggih. E. Basa Jawa Kasar Bahasa jawa kasar yaitu pada umumnya berasal dari kata dalam bahasa ngoko dan kata kasar, merupakan bahasanya orang yang yang sedang marah-marah. Contoh bahasa Jawa Kasar Lha, wong rupamu, pantes karo dhapure, jegosmu ya mung nguntal karo micek. Contoh Kalimat Unggah-Ungguh Bahasa Jawa Ngoko Andhap ngoko Alus Ngoko lugu = NL; Ngoko andhap = NA; Krama alus = KM Contoh 1. NL = Bapak mulihe jam pira, Di? NA = Bapak kondure jam pira, Di? KM = Bapak konduripun pukul pinten? 2. NL Nar! Layang iki wenehna Pak Guru! NA = Nar! Layang iki caosna Pak Guru! KM = Mas Nar, serat punika caosaken Pak Guru. 3. NL = Yen ora gelem, ya ora dadi ngapa. NA = Yen ora kersa ora dadi ngapa. KM = Menawi mboten kersa inggih mboten dados punapa. 4. NL = Sing nganggo klambi bathik iku sapa? NA = Sing ngagem klambi bathik iku sapa? KM = Ingkang ngagem ageman bathik punika sinten? Contoh Kalimat Unggah-Ungguh Bahasa Jawa Krama Alus Ngoko andhap = NA; Krama alus = KA Contoh = Priyayi iku pasuryane bagus. KA = Priyayi menika pasuryanipun bagus. 2. NA = Jayus didukani Pak Guru amarga ora ngumpulake PR. KA = Jayus dipun dukani Pk Guru amargi mboten ngumpulaken PR. 3. NA = Dhik Hasan ditimbali ibu, diparingi jajan. KA = Dhik Hasan ditimbali ibu, dipun paringi jajan. 4. NA = Mbak Tutik ditimbali simbah, dingendikani, anggone arep omah-omah. KA = Mbak Tutik dipun timbali Simbah, dipun ngendikani anggenipun badhe emahemah. 5. NA = Rawuhe Bapak Presiden Susilo Bambang Yudoyono ing Semarang didherekaken bapak-bapak mentri. KA = Rawuhipun Bapak Presiden Susilo Bambang Yudoyono wonten Semarang dipun dherekaken bapak-bapak mentri. 6. NA = Unjukane Bapak wis adhem. KA = Unjukanipun Bapak sampun asrep. 7. NA = Pak Lurah ngendikane dimidhangetaken wargane kanthi permati. KA = Pak Lurah ngendikanipun dipun midhangetaken warganipun kanthi permati. 8. NA = Titihane Pakdhe diampil Bapak. KA = Titihanipun Pakdhe dipun ampil Bapak. 9. NA = Adhik ditimbali Bapak, diutus mundhutake rokok. KA = Adhik dipun timbali Bapak, dipun utus mundhutaken ses rokok. 10. NA = Aku diutus Bapak, supaya nyaosaken layang iki marang Pak Lurah. KA = Kula dipun utus Bapak, supados nyaosaken serat punika dhateng Pak Lurah. Baca juga Tembung Camboran Tegese, Tuladha, lan Wujude Pengertian, Contoh, dan Jenisnya Tembung Entar Lan Tegese dalam Bahasa Jawa Tembung Saroja dan Artinya Secara Lengkap Tembung Garba Dalam Bahasa Jawa dan Contohnya Demikian ulasan tentang "Unggah-Ungguh Basa Jawa Bahasa Ngoko, Bahasa Madya, dan Bahasa Krama" yang dapat kami sampaikan. Baca juga artikel Bahasa Jawa dan kebudayaan Jawa menarik lainnya hanya di situs Daftar Isi 3 Tingkatan Bahasa Jawa Bahasa Jawa Ngoko Bahasa Jawa Krama Bahasa Jawa Madya Contoh Kosa Kata Bahasa Jawa Contoh Bahasa Jawa Ngoko Contoh Bahasa Jawa Krama Contoh Bahasa Jawa Madya Solo - Terdapat beberapa tingkatan dalam penggunaan bahasa Jawa sehari-hari. Adapun setiap tingkatan bahasa Jawa tersebut memiliki makna dan fungsinya tersendiri, tujuannya agar seseorang dapat berkomunikasi sesuai unggah-ungguh atau tata penggunaan bahasa, masyarakat Jawa memiliki aturan atau unggah-ungguh yang didasarkan pada kedudukan pembicara dan lawan bicara. Aturan tersebut digunakan untuk menghindari kesalahpahaman antara kedua pihak yang sedang dari buku Tingkat Tutur Bahasa Jawa 2013 oleh Soepomo Poedjosoedarmo dkk, berikut macam-macam tingkatan yang ada dalam bahasa Jawa lengkap dengan contohnya. Bahasa Jawa NgokoBahasa Jawa tingkat ngoko mencerminkan rasa tak berjarak atau rasa tak segan antara satu orang dengan orang lainnya. Jadi, jika seseorang ingin menyatakan keakraban dengan orang lain, bahasa Jawa tingkat ngoko-lah yang seharusnya dipakai. Dengan kata lain, bahasa Jawa tingkat ngoko biasa digunakan dalam berkomunikasi dengan teman akrab dan orang-orang yang berstatus sosial tinggi juga berhak untuk menunjukan rasa tak enggan terhadap orang lain yang berstatus sosial lebih rendah. Misalnya guru berhak memakai ngoko terhadap muridnya dan orang tua berhak memakai ngoko terhadap yang berhubungan akrab tapi saling menghormati satu sama lain biasanya memakai tingkat tutur ngoko yang halus. Mereka biasanya orang dari kalangan para pegawai negeri, priyayi, dan Jawa KramaBahasa Jawa tingkat krama adalah tingkat yang mencerminkan makna penuh sopan santun. Tingkatan ini menandakan adanya perasaan segan atas orang yang belum dikenal atau orang yang berwibawa, berpangkat, dan dulu, banyak keluarga Jawa yang mengharuskan anak-anaknya menggunakan bahasa krama jika berbicara dengan orang tua mereka. Di sekolah, anak-anak juga diharapkan untuk menggunakan bahasa krama terhadap gurunya. Hal ini ditekankan untuk mengajarkan anak-anak mengenai adat dan sopan Jawa MadyaBahasa Jawa tingkat madya adalah penuturan tingkat menengah antara krama dan ngoko. Tingkatan ini menunjukan perasaan sopan dalam taraf sedang. Tingkat madya awalnya adalah bahasa tingkat krama namun dalam perkembangannya mengalami informalisasi, penurunan tingkat, dan karena itu, bahasa Jawa tingkat madya menurut kebanyakan orang dianggap sebagai bahasa yang setengah sopan dan setengah tidak. Bahasa madya juga dianggap tidak terlalu kasar karena harus menaruh sopan santun tapi rasa segannya tidak setinggi bahasa Kosa Kata Bahasa JawaContoh Bahasa Jawa NgokoCangkem mulutWeteng perutMangan makanTuru tidurTuwa tuaMlebu masukPayu lakuBungah senangTuna rugiObah berubahContoh Bahasa Jawa KramaDinten hariSinten siapaMlebet masukMambet bauKawon kalahMajeng majuPajeng lakuKajeng kayuLemantun lemariKantun tertinggalContoh Bahasa Jawa MadyaAmpun janganOnten adaAjeng akanAwi mariNdika kamuNgadeg berdiriTebih jauhSade jualAos nilaiAmargi karenaItulah macam-macam tingkatan dalam bahasa Jawa lengkap dengan contohnya. Semoga bermanfaat dalam memperbaiki penggunaan bahasa sehari-hari, Lur!Artikel ini ditulis oleh Santo, peserta Program Magang Besertifikat Kampus Merdeka di detikcom. Simak Video "Viral! John Lennon Ubah Lirik 'Imagine' Jadi Bahasa Jawa" [GambasVideo 20detik] ahr/ahr

macam macam artikel bahasa jawa